DINAMIKA
KELOMPOK SOSIAL
Ø
Pengertian
Dinamika kelompok
sosial dapat didefinisikan sebagai proses perubahan dan perkembangan akibat
adanya interaksi dan interdependensi, baik antar anggota kelompok maupun antara
anggota suatu kelompok dengan kelompok lain.
Kelompok sosial yang
terbentuk dalam masyarakat, berupa kelompok sosial kecil ( pertemanan dan
kekerabatan ) dan kelompok sosial besar ( masyarakat desa, kota, dan bangsa ).
Kelompok sosial tersebut bersifat dinamis, dalam arti selalu mengalami
perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan dalam kelompok tersebut
memunculkan pengaruh terhadap kehidupan kelompok pada masa berikutnya.
Ø
FAKTOR
PENDORONG DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL
Dinamika kelompok
sosial dalam masyarakat menyebabkan perubahan dan perkembangan kelompok sosial
yang makin kompleks. Perkembangan tersebut tidak lepas dari factor pendorong
yaitu sebagai berikut.
1. Faktor
Pendorong dari Luar
Faktor pendorong dari
luar atau ekstern merupakan pengaruh dari luar yang menyebabkan dinamisnya
suatu kelompok sosial, yang meliputi berikut.
a. Perubahan
Situasi Sosial
Terjadinya situasi
sosial yang berubah, missal pembentukan kabupaten baru atau provinsi baru,
industrialisasi, ruralisasi, dan sebagainya dapat mendorong perkembangan
kelompok sosial. Misal akibat industrialisasi, pola masyarakat paguyuban yang
berdasarkan nilai kebersamaan/gotong royong bergeser menjadi kelompok
patembayan yang berpegang pada nilai individualistis.
b. Perubahan
Situasi Ekonomi
Situasi ekonomi
masyarakat yang berubah, mendorong pula terjadinya perubahan pada kelompok
sosial. Misal perubahan dari masyarakat pedesaan dengan segala karakterya
menjadi masyarakat perkotaan yang memiliki karakteristik yang beerlainan.
c. Perubahan
situasi politik
terjadinya pergantian
pemegang kekuasaan atau sekitar elite kekuasaan atau perubahan kebijaksanaan
penguasa dapat menyebabkan perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat.
2. Faktor
Pendorong dari Dalam
Faktor dari dalam
(intern) kelompok yang menyebabkan timbulnya dinamika kelompok sosial adalah
sebagai berikut.
a. Konflik
Antarangggota Kelompok
Konfik yang terjadi
antar anggota dalam kelompok sosial dapat membawa pengaruh keretakan dan
berubahnya pola hubungan sosial. Akibat konflik teersebut akan menyebabkan
teerpecahnya sebuah kelompok sosial.mial seseorang
yang menjadi anggota kelompok sosial, karena merasatidak cocok dengan angggota
lain (in group) maka menjadi out group dari kelompok sosial tersebut.
b. Perbedaan
kepentingan
Dasar terbentuknya
kelompok sosial adalah kepentingan yang sama. Begitu terjadi perbedaan
kepentingan, maka kelangsunganhidup kelompok soaial tersebut akan
teerpecah.anggota kelompok yang merasa tidak lagi sepaham berusaha memisahkan
diri dan bergabung dengan kelompok lain yang sepaham.
c. Perbedaan
Paham
Perbedaan paham
diantara anggota kelomp-ok sosial dapat mempengaruhi kelangsungan kelompok
tersebut. Perbedaan paham tersebut akan berpengaruh terhadap keberadaan
kelompok sosial dalam mayarakat.
Ø
PERKEMBANGAN
BERBAGAI KELOMPOK SOSIAL
1. Kelompok
Kekerabatan
Keluarga merupakan
kelompok sosial terkecil dalam masyarakat. Kelompok keluarga dapat dijumpai
dalam setiap masyarakat didunia. Keluarga inti atau keluarga batih terdiri atas
ayah, ibu, dan anak-anaknya yang belum menikah. Keluarga inti berfungsi memberikan
sosialisasi dan perlindungan kepada anak-anak, dan mendidik mereka sampai
mandiri. Dari keluarga inti berkembang menjadi keluarga besar ( extended
family) yang dinamakan kelompok kekerabatan. Dalam kekerabatan terdapat
hubungan darah atau persaudaraan. Kelompok tersebut menjadi awal terbentuknya
masyarakat. Pada dasarya kelompok kekerabatan merupakan masyarakat homogin yang
menganut nilai, norma ataupun tingkah laku yang relatif sama, sehingga
pembagian kerja dilakukan secara sederahana berlandaskan pada tradisi dan
perbedaan jenis kelamin. Dalam kelompok kekerabatan, nilai tradisional masih
dijunjung tinggi. Kehidupan kelompok berpusat pada tradisi kebudayaan yang
telah dipelihara secara turun temurun. Soerjono soekanto menyatakan,
kemungkinnan untuk mengubah tradisi kebudayaan yang telah dipelihara turun
temurun memang sulit. Namun, melalui inovasi secara bertahap, perubahan dalam
kelompok kekerabatan dapat terjadi meskipun dalam waktu yang cukup lama.
2. Kelompok
Okupasional
Semula kelompok okupasional
terbentuk dalam masyarakat yang bersifat homogen. Dalam masyarakat, seseorang
individu kemungkinan melakukan berbagai pekerjaan. Spesialisasi pekerjaan yang
mulai tumbuh dalam masyarakat sejalan dengan pengaruh dunia luar dan berakibat
masyarakat menjadi heterogen. Spesialisasi pekerjaan makin berkembang sejalan
dengan perkembangan masyarakat. Hal ini diimbangi dengan perkembangan lembaga
pendidikan sehingga menghasilkan orang yang ahli dalam ilmu tertentu
(professional). Dalam masyarakat yang heterogen tersebut, muncul kelompok
okupasional. Kelompok okupasional merupakan kelompok anggota masyarakat yang
terdiri dari orang-orang yang ahli dan dari kalangan profesional yang memiliki
etika profesi. Misal Ikatan Dokter Indonesia (IDI), PERsatuan Guru Republik
Indonesia (PGRI), serikat buruh, Parfi, dan sebagainya.
3. Kelompok
Volunter
Berkembangnya sarana
komunikasi secara luas dan cepat menyebabkan tidak ada masyarakat yang
benar-benar tertutup terhadap dunia luar. Heterogenitas masyarakat semakin luas.
Makin berkembangnya masyarakat berakibat tidak semua kebutuhan anggota
masyarakat dapat terpenuhi. Oleh karena itu muncullah kelompok volunteer.
Kelompok volunteer
terdiri atas individu yang memiliki kepentingan yang sama, tetapi tadak
mendapat perhatian dari masyarakat yang semakin luas daya jangkauannya.
Kelompok volunter berusaha memenuhi kebutuhan anggotanya secara mandiri tanpa
mengganggu kepentingan masyarakat umum. Kelompok volunter dapat berkembang
menjadi kelompok yang mantap karena diakui keberadaannya oleh masyarakat umum.
Missal lembaga pemantau pemilu di Indonesia, lembaga quick count pemilu, dan
sebagainya.
4. Masyarakat
Perdesaan
a. Pengertian
Masyarakat tradisional
merupakan masyarakat yang sebagian besar/keseluruhan aktivitasnya berkaitan
erat dengan tradisi, baik yang berkaitan dengan religi maupun nonreligi.
Masyarakat tradisional pada umumnya hidup di perdesaan, sehingga dapat
diidentikkan dengan masyarakat perdesaan.
H. Landis mengemukan
desa dari aspek statistic, psikologi sosial, dan ekonomi. Dari statistic,
perdesan adalah tempat dengan penduduk kurang dari 2.500 orang. Psikologi
sosial, perdesaan adalah daerah di mana pergaulannya ditandai dengan derajat
intemasi/ keakrabannya yang sangat tinggi. Sedangkan kota adalah tempat di mana
hubungan sesame individu sangat impersonal/longer. Aspek ekonomi, perdesaan
adalah daerah di mana pusat perhatian/ kepentingan adalah pertanian dalam arti
yang luas.
Bintarto mendefinisikan
perdesaan sebagai suatu hasil perpaduan antara kegiatan kelompok manusia dengan
lingkungan. Hasil dari perpaduan berupa bentuk di muka bumi yang di timbulkan
oleh unsure fisiografi, sosial dan ekonomi, politik dan cultural yang saling
berinteraksi antarunsur serta dalam hubungan dengan daerah lain. Unsure desa
meliputi daerah, penduduk, dan tata kehidupan. Ketiganya dikatakan sebagai
living unit atau satu kesatuan hidup yang tidak dapat dilepaskan satu sama
lain.
Secara sosiologis,
pengertian desa memberikan penekanan pada kesatuan masyarakat pertanian dalam suatu
masyarakat yang jelas menurut susunan pemerintahannya. Kehidupan di desa sering
dinilai sebagai kehidupan yang tentram, damai, selaras, jauh dari perubahan
yang dapat menimbulkan konfik.
Perlu ditandaskan bahwa
tidak semua masyarakat desa dapat disebut masyarakat tradisional, sebab ada
sebagian desa yang sedang mengalami perubahan ke arah kemajuan dengan
meninggalkan kebiasaan lama. Sehingga lebih ditekankan pada masyarakat desa
yang begada di perdalaman dan kurang memahami perubahan/pengaruh dari kehidupan
kota.
b. Ciri
masyarakat desa
Menurut Redfield, cirri
masyarakat pra industry atau primitive meliputi berikut
1) Agak
rendah perkembangan pengetahuan dan teknologinya
2) Komunitasnya
kecil (sampai ratusan jiwa)
3) Belum
banyak mengenal pembagiaan kerja dan spesialisasi.
4) Masih
tidak banyak deferensiasi kemasyarakatan.
5) Tidak ada
heterogenitas kebudayaan.
6) Terdapat
cirri orde moral yaitu prinsip hidup yang mengikat.
Sedangkan ciri
masyarakat desa di Indonesia meliputi berikut.
1) Berkaitan
dengan tradisi masyarakat
2) Memiliki
rangkaian sistem teknologi yang sederhana.
3) Bersifat
tetap/tidak banyak mengalami perubahan.
4) Memiliki
sifat sederhana dan daya pakai serta produktivitas yang relatif rendah.
5) Dalam
beberapa hal memiliki sifat rasional.
6) Tingkat
buta huruf relatif tinggi.
7) Hukum
yang berlaku tidak tertulis, tidak kompleks.
8)
Ekonomi produksi untuk keperluan keluarga.
c. Dinamika
dalam Masyarakat Pedesaan
Secara sosiologis,
mentalitas individu dominan dibentuk oleh situasi tata pergaulan dalam
masyarakat, termasuk di dalamnya tekanan hidup. Masyarakat tradisional yang
tinggal di desa pada umumnya masih lugu, polos, jujur, lemah dan pamrih,
semangat solidaritas tinggi dan murni. Adapun factor yang mempengaruhi
mentalitas tersebut adalah sbb.
1) Tekanan
hidup terasa lebih ringan.
2) Masih
memiliki waktu yang cukup dan seimbang antara rohaniah dengan keduniawian.
3) Letaknya
di perdalaman berakibat belum banyak dicemari pengaruh media masa.
4) Kehidupan
paguyuban menjadikan warga saling mengenal dan akrab.
Masyarakat perdesaan
atau rural community merupakan masyarakat yang pada umumnya memiliki mata
pencaharian bertani, berkebun, berladang. System kehidupan biasanya berkelompok
atas dasar kekeluargaan dan mempunyai hubungan yang erat serta mendalam di
antara anggotanya. Cara bertani masih dilakukan dengan tradisional dan tidak
efisien karena belum dikenal mekanisasi dalam pertanian. Kegiatan bertani hanya
untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga atau masyarakatnya sendiri, bukan untuk
dijual. Ditinjau dari aspek kepemimpinan, hubungan antara pemimpin dan rakyat
berlangsung secara informal. Seorang pimpinan memiliki beberapa kedudukan dan
peranan yang sulit dipisahkan, sehingga segala sesuatu dipusatkan pada seorang
kepala desa. Perubahan pada masyarakat pedesaan sulit dilakukan karena pola
piker masyarakat (terutama generasi tua) masih didasarkan pada tradisi.
Disamping itu juga kurang meratanya proses pembangunan dan informasi sehingga
menimbulkan kondisi ang kontras antara masyarakat perdesaan dengan masyarakat
perkotaan.
Dengan berkembangnya
iptek, informasi melalui media masa mulai masuk ke masyarakat perdesaan. Hal
ini berakibat perubahan karakter/watak, bahkan menghilangkan karakter masyarakat
perdesaan. Meskipun pengaruh media masa tidak selalu negatif.
Di Indonesia, desa
memiliki peran penting, mengingat mayoritas penduduk tinggal di perdesaan.
Menurut bintarto, desa memiliki fungsi berikut.
1) Hinterland
atau daerah dukung yang berperan sebagau daerah pemberi makanan pokok yang
tidak dapat dihasilkan kota.
2) Dari sudut
ekonomi, berfungsi sebagai lumbung bahan mentah (raw material) dan tenaga kerja
(man power).
3) Dari segi
kegiatan/okupasi, desa merupakan desa agraris, manufaktur, industry, dan
sebagainya.
Masyarakat perdesan
memiliki keyakinan yang mendalam terhadap norma sosial, sehingga mereka
memiliki sifat sulit berubah. Hal ini menguntungkan dalam pembakuan akhlak dan
budi perkerti, namum merugikan dalam perkembangan iptek. Kepatuhan warga bukan
karena takut terhadap sanksi sosial, melainkan keyakinan mendalam akan
kebenaran nilai sosial dalam norma. Factor yang mendukung kepatuhan murni yaitu
:
1) Kehidupan
rohani lebih tebal dan berkembang lebih subur.
2) Tuntutan
hidup relative ringan.
3)Letaknya
yang terpencil dan komunikasi tertutup menghambat masuknya pengaruh negative.
4) Jumlah
penduduk relative sedikit dan saling mengenal.
5. Mayarakat
Perkotaan
a. Pengertian
Masyarakat modern merupakan
masyarakat yang sebagian besar warganya memiliki orientasi budaya yang terarah
ke kehidupan dalam peradaban dunia masa kini. Masyarakat perkotaan merupakan
sekelompok orang yang hidup bersama pada suatu wilayah tertentu yang menjadi
suatu pusat politik pemerintahan dan atau industri, perdagangan, kebudayaan
dengan memperlihatkan sifat atau ciri corak pergaulan dan tata kehidupan yang
berbeda dengan masyarakat desa. Sedangkan secara sosiologis, pengertian kota
terletak pada sifat dan cirri kehidupan dan bukan ditentukan oleh menetapnya
sejumlah penduduk di suatu wilayah perkotaan.
Di berbagai Negara
berkembang, seperti Indonesia, masyarakat modern disebut juga masyarakat kota.
b. Ciri
masyarakat Modern/Kota
Selo Soemardjan mengemukakan sbb :
1.
Hubungan
antar manusia di dasarkan atas kepentingan pribadi.
2.
Hubungan
dengan masyarakat lain dilakukan secara terbuka dan saling memengaruhi.
3.
Percaya
pada fungsi iptek untuk meningkatkan kesejahteraan.
4.
Masyarakat
tergolong menurut bermacam-macam profesi dan keahlian.
5.
Tingkat
pendidikan formal merata dan tinggi.
6.
Hokum
tertulis yang sangat kompleks.
7.
Dominan
ekonomi pasar berdasarkan penggunaan uang.
Soerjono Soekanto mengemukakan ciri
manusia modern adalah sebagai berikut.
1. Orang
yang bersikap terbuka terhadappengalaman dan penemuan baru (tidak ada
prasangka).
2.
Siap
untuk menerima perubahan setelah menilai kekurangan yang dihadapinya.
3.
Peka
terhadap masalah yang terjadi di sekitarnya.
4.
Memiliki
informasi yang lengkap mengenai pendiriannya.
5.
Lebih
banyak berorientasi ke masa kini dan mendatang.
6.
Senantiasa
menyadari potensi yang ada pada dirinya dan yakin dapat dikembangkan.
7.
Tidak
pasrah pada nasib.
8.
Percaya
pada manfaat iptek.
9.
Menyadari
dan menghormati hak, kewajiban, dan kehormatan orang pihak lain.
c. Dinamika
Masyarakat Perkotaan
Masyarakat perkotaan
atau urban community merupakan kelompok social yang mendiami wilayah yang luas,
sebagian besar penduduknya bermata pencaharian disektor industry, jasa, dan
perdagangan. Keanggotaan masyarakat kota tidak saling mengenal, lebih terikat kontrak
dan mulai meninggalkan tradisi. Kehidupan kota yang sangat kompetitif dan
selektif dapat meruntuhkan kesetiakawanan, silidaritas social yang dapat
menggeser nilai social dalam masyarakat. Agak rendahnya mentalitas masyarakat
perkotaan disebabkan oleh berikut.
1.
Tekanan
hidup yang keras, di mana kehidupan makin kompetitif.
2. Kemajuan
iptek menghasilkan barang yang serba menarik dan mendorong untuk memilikinya.
3. Kehidupan banyak kegiatan dan kesibukan,
sehingga orang tidak ramah, masa bodoh dan egoistis.
4.
Jumplah
penduduk yang besar membuat hidup sulit, sehingga muncul perbuatan curang.
Faktor penyebab
dinamika sosial dalam masyarakat perkotaan adalah sebagai berikut.
1. Faktor pendidikan.
2. Faktor urbanisasi.
3. Faktor komunikasi.
4. Industrialisasi dan
mekanisasi.
5. Ekonomi.
6. Sosial.
7. Politik.
8. Budaya.
Dampak dari dinamika
masyarakat perkotaan adalah sebagai berikut :
·
Dampak
positif
a. Tingkat pendidikan
lebih merata.
b. Komunikasi dan
informasi lebih cepat dan mudah.
c. Profesionalitas
lebih terjaga.
d. Pembangunan dalam
berbagai bidang lebih terjamin.
· Dampak negative
- . Munculnya sikap individualitas.
- Memudarnya nilai kebersamaan.
- Munculnya sikap kurang mempercayai pihak lain.
- Memudarnya perhatian terhadap budaya lokal dan budaya nasional, terutama di kalanan generasi muda.
Sumber : https://wawansosiokds.wordpress.com/2011/05/30/mdinamika-kel-sosial/
Comments
Post a Comment