Tahap Perkembangan Kelompok
Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai 5 (lima) Tahap Perkembangan Kelompok yang dimaksud oleh Bruce Tuckman :
1. Tahap Pembentukan (Forming)
Saat memulai pembentukan
kelompok forming merupakan tahap pembentukan awal atau
pengenalan dalam membangun sebuah kelompok, dalam tahap ini peserta belum
memahami satu sama lain, dan kejelasan mengenai norma, peran, dan tujuan masih
kurang, ada kecemasan mengenai adanya kepercayaan diantara anggota team,
tingginya ketergantungan pada figur kepemimpinan untuk tujuan dan arah ada pada
tahapan ini, dan yang menjadi isu utama adalah keberadaan diri-pribadi,
penerimaan dan kepercayaan. Ketika saya terlibat dalam sebuah proyek yang
melibatkan limapuluh lebih orang, maka semua akan menjaga dirinya sebelum
saling mengenal.
2. Tahap timbulnya Konflik (Storming)
Tahapan kedua setelah
pengenalan awal, storming merupakan tahap terjadinya konflik
dan kecenderungan tampil individual untuk menunjukkan mengenai eksistensi diri
dan dominasi satu atau lebih orang. Pada tahapan ini yang menjadi isu utama
adalah: kekuasaan (power), kontrol dan konflik. Bila sebuah
pembentukan team tidak bisa melewati storming maka akan
berakibat pada kegagalan. Kelompok yang saya bentuk dan mulai mengenal satu
dengan yang lain, namun saling menonjolkan diri juga, sebagai pemimpin saya
memastikan mendengar satu dengan yang lain untuk mempersatukan.
3. Tahap Normalisasi (Norming)
Tahapan ketiga pada
pembentukan kelompokan adalah norming, tahapan ini merupakan
tahap timbulnya kerjasama (cooperation). Keterikatan antar
individu dalam team (Cohesiveness) pada tahap ini sudah mulai
terjadi : kelompok akan berbagi tanggung jawab dan kontrol, menghargai
perbedaan di antara mereka sendiri, mulai berpikir dalam hal “kita” daripada
“saya. Pada tahap ini mulai terbentuk adanya norma dan ground
rules dengan isu utama: tingkat keterampilan meningkat yang mengarah
ke positif, bahkan perasaan euforia. Saat tahap ini setiap individu telah
mencapai keterikatan yang dibutuhkan, biasanya keseimbangan bahwa mereka
memiliki tujuan yang sama.
Pada tahap ini
pembentukan kelompok telah sampai pada tahap kematangan (mature phase) dari
sebuah tim, kontribusi anggota tim tinggi sehingga timbul sinergi. Kepercayaan
diri anggota tim mengenai kemampuan mereka meningkat untuk mencapai tujuan dan
mampu mengatasi hambatan. Pada tahapan ini yang menjadi isu utama adalah:
peningkatan dan pertumbuhan (refinement & growth), kelompok
akan bertumbuh dan meningkat dan seorang pemimpin merasakan kerja keras yang
dilakukan selama ini terjadi.
Tahap
ini dikhususkan untuk Kelompok-kelompok kerja yang bersifat sementara. Setelah
suatu proyek selesai ataupun suatu permasalahan berhasil dituntaskan, kelompok
kerja tersebut akan dibubarkan.
Catatan
: Untuk kelompok-kelompok kerja yang permanen, Tahap terakhir adalah di Tahap
berkinerja (Performing).
Partikularisme dan Eksklusivisme Kelompok sosial
A. Partikularisme
Kelompok
1. Pengertian
Partikularisme Kelompok
Partikularisme
adalah sistem yang mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum
atau aliran politik, ekonomi, kebudayaan yang membandingkan daerah atau kelompok
sekunder khusus. Dalam masyarakat partikularisme ini sering terjadi pada mereka
yang hanya dapat memikirkan dirinya sendiri saja tanpa mempedulikan
sekitarnya. Partikularisme kelompok dapat menyebabkan munculnya sikap
egois dan cenderung tertutup dengan kebudayaan yang lain. Selain itu, juga
dapat menimbulkan sikap primordialisme dan etnosentrisme. Partikularisme
memiliki kemungkinan menjadi sumber konflik karena cenderung mementingkan
pribadi atau kelompok sendiri dari pada kepentingan umum atau publik.
Partikularisime juga dapat menghambat integrasi sosial dan nasional.
Menurut Craig
Stortie, partikularisme berkaitan dengan bagaimana seseorang berperilaku dalam
situasi tertentu. Orang tersebut akan memperlakukan keluarga, teman, dan in-group nya
sebaik yang dia bisa, dan membiarkan orang lain mengurus dirinya sendiri.
2. Ciri-Ciri Partikularisme
Kelompok
- 1. Individualis,
mementingkan kepentingan pribadi daripada umum
- 2. Heterogen,
bersifat dan berpandangan yang berbeda/ macam-macam
- 3. Mobilitas
tinggi, memiliki dan menghadapi perubahan yang cepat
- 4. Berorientasi
pada rasionalitas dan fungsi, mengedepankan logika dan teknologi
Contohnya dalam
kehidupan sehari-hari adalah seorang pemimpin di suatu perusahaan kontruksi
yang hanya memperkerjakan buruh yang berasal dari kampungnya sendiri. Contoh
lain, Bangsa Israel yang tidak mau melaksanakan pernikahan dengan suku bangsa
lain, dan seseorang yang selalu ingin dianggap paling baik dan benar, dan
sebagainya.
B. Eksklusivisme
Kelompok
1. Pengertian Eksklusivisme
Kelompok
Eksklusivisme
berarti paham yang mempunyai kecenderungan untuk memisahkan diri dari
masyarakat. Eksklusivisme ini berkaitan erat dengan partikularisme, sebab
mengutamakan kepentingan pribadi kemudian membuat kelompok tersebut mempunyai
kecenderungan memisahkan diri dengan sikap khusus yang disepakati dalam
kelompok.
Eksklusivisme dapat
memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif eksklusivisme, yaitu
masyarakat dapat tetap mempertahankan kebudayaan kelompoknya karena menganggap
kelompoknya yang paling baik dan wajib dipertahankan, mampu membedakan dirinya
dengan orang lain, serta tidak mudah terbawa oleh kelompok lain, sedangkan
dampak negatif yang ditimbulkan dari eksklusivisme, yaitu membuat seseorang
menganggap kepentingan kelompok sendiri menjadi satu-satunya hal yang penting,
tertutup pada pengaruh budaya lain sehingga sangat sulit melakukan berbagai
perubahan yang bersifat progresif, dan dapat memecah belah persatuan.
2. Ciri-Ciri Eksklusivisme Kelompok
- 1. Mengutamakan
kepentingan pribadi.
- 2. Memiliki
kecenderungan untuk memisahkan diri dengan sikap khusus yang disepakati dalam
kelompok.
Implementasi konsep
partikularisme dan eksklusivisme dalam kelompok sosial dapat dilihat dari
bagaimana kelompok tersebut diidentifikasi menurut karakteristik kelompok,
misalnya penerapan nilai dan norma dalam kelompok tersebut. Partikular dan
eksklusif dapat dilihat dari cakupan yang lebih luas, artinya melihat kelompok
sosial secara global. Konsep ini sering dikaitkan dengan bahasan universalisme
dan globalisasi. Melihat konsep globalisasi, sering kelompok sosial dengan
konsep partikular ini diidentikkan dengan masyarakat tradisional yang masih
kuat mempertahankan nilai dan norma yang dipercayai oleh kelompok tersebut. Di
Indonesia, ada banyak etnis yang ini sesuai dengan konsep partikular dan
eksklusif ini.
https://ilmumanajemenindustri.com/tahap-tahap-perkembangan-kelompok/
https://www.blj.co.id/2014/09/08/lima-tahap-pembentukan-kelompok-dalam-project/
Comments
Post a Comment